PENGERTIAN PENGENDALIAN INTERN
Pengendalian internal merupakan bagian integral dari sistem informasi
akuntansi. Pengendalian internal itu sendiri adalah suatu proses yang
dijalankan untuk dewan komisaris, manajemen, dan personil lain dalam
perusahaan. Adapun kriteria dari pengendalian internal yaitu :
a. Keandalan pelaporan keuangan
b. Efektivitas dan efisiensi operasi
c. Keputusan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
Dengan menetapkan serta menerapkan pengendalian internal maka perusahaan
mampu mencapai tujuan dan meminimalkan resiko. Sebagai hasil dari
ditetapkannnya pengendalaian internal dalam sisten informasi akuntansi
adalah dihasilkannya informasi akuntansi yang berkualitas dan dapat di
audit.
Sistem Pengendalian Internal
Sistem Pengendalian Internal adalah Suatu perencanaan yang meliputi
struktur organisasi dan semua metode dan alat-alat yang dikoordinasikan
yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan
harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data
akuntansi, mendorong efisiensi, dan membantu mendorong dipatuhinya
kebijakan manajemen yang telah ditetapkan.
Tujuan adanya pengendalian internal :
1. Menjaga kekayaan organisasi.
2. Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.
3. Mendorong efisiensi.
4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
Dilihat dari tujuan tersebut maka sistem pengendalian internal dapat dibagi menjadi dua yaitu :
- Pengendalian Internal Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya
inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan
memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi
dan tanggung jawab antar unit organisasi.
- Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya
efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen.(dikerjakan
setelah adanya pengendalian akuntansi) Contoh : pemeriksaan laporan
untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.
Unsur-Unsur Pengendalian Internal :
- Lingkungan Pengendalian dari suatu organisasi menekankan pada
berbagai macam faktor yang secara bersamaan mempengaruhi kebijakan dan
prosedur pengendalian.
- Sistem akuntansi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan laporan
keuangan saja, tetapi juga menghasilkan pengendalian manajemen.
- Prosedur pengendalian merupakan kebijakan dan aturan mengenai
kelakuan karyawan yang dibuat untuk menjamin bahwa tujuan pengendalian
manajemen dapat tercapai.
Tujuan Sistem Pengendalian Internal
Pengendalian dalam suatu perusahaan merupakan sistem yang dapat membantu
pemimpin perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya, sehingga dapat
diarahkan pada tingkat yang paling efisiensi dan efektif guna mencegah
kecurangan, penyelewengan dan pemborosan . Penegndalian ini berfungsi
apabila di dalamnya tercakup tujuan yang merupakan arah dalam
pelaksanaan kegiatan.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Yang dimaksud dengan keputusan
(decision) adalah berarti pilihan (choice), yaitu pilihan dari dua atau lebih
kemungkinan. Walaupun keputusan biasa dikatakan sama dengan pilihan, ada
perbedaan penting diantara keduanya. Mc Kenzei melihat bahwa keputusan adalah
pilihan nyata karena pilihan diartikan sebagai pilihan tentang tujuan termasuk
pilihan tentang cara untuk mencapai tujuan itu, apakah pada tingkat perorangan
atau kolektif. Mc Grew dan Wilson lebih melihat pada kaitannya dengan proses,
yaitu bahwa suatu keputusan ialah akhir dari suatu proses yang lebih dinamis,
yang diberi label pengambilan keputusan. Dipandang sebagai proses karena
terdiri atas satu seri aktifitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap
sebagai tindakan bijaksana.
Morgan dan
Cerullo mendefinisikan keputusan sebagai sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah
dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih sementara
yang lain dikesampingkan.
Pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak
dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses tersebut untuk menemukan dan
menyelesaikan masalah organisasi. Suatu aturan kunci dalam pengambilan
keputusan ialah sekali kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus
dibuat (Brinckloe,1977). Dengan kata lain, keputusan mempercepat diambilnya
tindakan, mendorong lahirnya gerakan dan perubahan (Hill,1979).
Pengambilan keputusan hendaknya dipahami dalam dua pengertian yaitu (1)
penetapan tujuan yang merupakan terjemahan cita-cita, aspirasi dan (2)
pencapaian tujuan melalui implementasinya (Inbar,1979). Ringkasnya keputusan
dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan dan ini semua berintikan pada
hubungan kemanusiaan. Untuk suksesnya pengambilan keputusan itu maka sepuluh
hukum hubungan kemanusiaan (Siagian,1988) hendaknya menjadi acuan dari setiap
pengambilan keputusan.
A. Proses Pengambilan Keputusan
Ada dua pandangan dalam pencapaian proses mencapai suatu keputusan organisasi
(Brinckloe,1977) yaitu :
(1) Optimasi. Di sini seorang eksekutif
yang penuh keyakinan berusaha menyusun alternatif-alternatif, memperhitungkan
untung rugi dari setiap alternatif itu terhadap tujuan organisasi. Sesudah itu
memperkirakan kemungkinan timbulnya bermacam-macam kejadian ke depan,
mempertimbangkan dampak dari kejadian-kejadian itu terhadap
alternatif-alternatif yang telah dirumuskan dan kemudian menyusun
urut-urutannya secara sistematis sesuai dengan prioritas lalu dibuat keputusan.
Keputusan yang dibuat dianggap optimal karena setidaknya telah memperhitungkan
semua faktor yang berkaitan dengan keputusan tersebut.
(2) Satisficing. Seorang eksekutif
cukup menempuh suatu penyelesaian yang berasal memuaskan ketimbang mengejar
penyelesaian yang terbaik. Model satisficing dikembangkan oleh Simon
(Simon,1982; roach, 1979) karena adanya pengakuan terhadap rasionalitas
terbatas (bounded rationality). Rasionalitas terbatas adalah batas-batas
pemikiran yang memaksa orang membatasi pandangan mereka atas masalah dan
situasi. Pemikiran itu terbatas karena pikiran manusia tidak megolakan dan
memiliki kemampuan untuk memisahkan informasi yang tertumpuk.
Menurut Frank Harison (Hitt, 1970),
faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya rasionalitas terbatas antara lain
informasi yang datang dari luar sering sangat kompetitif atau informasi itu
tidak sempurna, kendala waktu dan biaya, serta keterbatasan seorang mengambil
keputusan yang rasional untuk mengerti dan memahami masalah dan informasi,
terutama informasi dan teknologi.
B. Unsur Prosedur Keputusan
Di balik suatu keputusan ada unsur prosedur, yaitu pertama pembuatan keputusan
mengidentifikasikan masalah, mengklarifikasi tujuan-tujuan khusus yang
diinginkan, memeriksa berbagai kemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dan mengakhiri proses itu dengan menetapkan pilihan bertindak. Jadi
suatu keputusan sebenarnya didasarkan atas fakta dan nilai (facts and values).
Keduanya sangat penting tetapi tampaknya fakta lebih mendominasi nilai-nilai
dalam menyehatkan keputusan suatu organisasi (Bridges, 1971).
C. Alternatif dan Konsekuensi Keputusan
Dapat dikatakan bahwa setiap keputusan bertolak dari beberapa kemungkinan atau
alternatif untuk dipilih. Setiap alternatif membawa konsekuensi-konsekuensi.
Ini berarti, menurut Simon, sejumlah alternatif itu berbeda satu sama lain mengingat
perbedaan dari konsekuensi-konsekuensi yang akan ditimbulkannya. Pilihan yang
dijatuhkan pada alternatif itu harus dapat memberikan kebahagiaan atau kepuasan
karena merupakan salah satu aspek paling penting dalam keputusan.
D. Tingkat-Tingkat Keputusan
Brinckloe (1977) menawarkan bahwa ada empat tingkat keputusan yaitu (1)
automatic decisions, (2) expected information decisions, (3) factor weighting
decisions dan (4) dual uncertainty decisions.
(1) Keputusan otomatis (outomatic
decisions), keputusan yang dibuat dengan sangat sederhana, meski sederhana
informasi tetap diperlukan.
(2) Keputusan berdasar informasi
yang diharapkan (Expected information decision), tingkat informasi mulai
sedikit kompleks artinya informasi yang ada sudah memberi aba-aba untuk
mengambil keputusan. Tetapi keputusan belum segera diambil karena informasi
tersebut perlu dipelajari.
(3) Keputusan berdasar berbagai
pertimbangan (factor weighting decisions), informasi-informasi yang telah
dikumpulkan dianalisis, lalu dipertimbangkan dan diperhitungkan sebelum
keputusan diambil.
(4) Keputusan berdasar
ketidakpastian ganda (Dual uncertainty decisions), dalam setiap informasi yang
ada masih diharapkan terdapat ketidakpastian artinya semakin luas ruang lingkup
dan semakin jauh dampak dari suatu keputusan, semakin banyak informasi yang
dibutuhkan semakin tinggi ketidakpastian itu.
E. Klasifikasi Keputusan
1. Keputusan Terprogram.
Menurut Siagian, S.P. (1993),
Keputusan Terprogram adalah tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung
berulang kali, dan diambil secara rutin dam organisasi. Biasanya menyangkut
pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak memerlukan
pengarahan dari tingkat manajemen yang lebih tinggi. Biasanya langkah-langkah
dan prosedur yang perlu ditempuh telah dituangkan dalam buku pedoman, yang
biasanya terdapat dalam organisasi yang dikelola secara rapi. Pengambilan
keputusan terprogram akan berlangsung dengan efektif apabila empat criteria
dasar dipenuhi :
a. Tersedia waktu dan dana yang memadai untuk pengumpulan dan analisis data.
b. Tersedia data yang bersifat kuantitatif.
c. Kondisi lingkungan yang relatif stabil, yang didalamnya tidak dapat tekanan
yang kuat untuk secara cepat melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu
terhadap kondisi yang selalu berubah.
d. Tersedia tenaga trampil untuk merumuskan permasalahan secara tepat, termasuk
tuntutan operasional yang harus dipenuhi.
Sedangkan dalam Salusu menyebutkan
bahwa keputusan terprogram yang dibuat sebagai respon terhadap masalah-masalah
organisasi yang repetitif atau yang sudah baku, mencakup keputusan operasional
dan keputusan pada tingkat menengah dari Morgan dan Cerello, keputusan
operasinal dan taktis dari Sutherland serta dari Mangkusubroto dan Trisnadi dan
keputusan terstruktur dari Mintzberg dan Brinckloe;
2. Keputusan yang tidak Terprogram.
Biasanya diambil dalam usaha memecahkan masalah-masalah baru yang belum
pernah dialami sebelumnya, tidak bersifat repetitif (berulang-ulang), tidak
terstruktur, dan sukar mengenali bentuk, hakikat dan dampaknya. Sebagai akibat
keadaan demikian, para ahli belum mampu menyajikan teknik pemecahan yang sudah
terbukti efektif di masa lalu, baik karena sifatnya yang baru itu maupun karena
sukar untuk mendefinisikan hakikatnya secara tepat. Keputusan yang tidak
Terprogram tidak menyangkut hal-hal yang sifatnya operasional, akan tetapi
menyangkut kebijaksanaan organisasi dengan dampak yang strategis bagi
eksistensi organisasi. (Siagian, S.P.; 1993), Keputusan Terprogram
Sedangkan dalam Salusu menyebutkan bahwa keputusan tidak terprogram, dibuat
sebagai respon dari masalah-masalah unik, yang jarang dijumpai dan yang tidak
dapat didefinisikan secara tepat, keputusan ini biasanya dikenal dengan nama
keputusan strategik, meliputi keputusan strategik dari Morgan dan Cerello, Mangkusubroto
dan Trisnadi, keputusan strategik dan tujuan (goal) Sutherland, serta keputusan
tidak terstruktur dari Mintzberg dan Brinckloe.
Dari segi struktur keputusan
tertinggi adalah yang berhubungan dengan cita-cita, tujuan, menyusul keputusan
strategik lalu keputusan taktis dan yang paling bawah adalah keputusan
operasional. Keputusan tertinggi hanya dibuat satu atau dua kali makin ke bawah
tingkat keputusan makin tinggi frekuensi pembuatannya.
F. Kategori Keputusan
Ditinjau dari sudut perolehan
informasi dan cara memproses informasi, keputusan dibagi empat kategori (Nutt,
1989) :
1. Keputusan Representasi, pengambilan keputusan menghadapi informasi yang
cukup banyak dan mengetahui dengan tepat bagaimana memanipulasikan data
tersebut. Keputusan ini banyak menggunakan model-model matematik seperti
operation research, cost-benefit analysis dan simulasi.
2. Keputusan Empiris, suatu keputusan yang sedikit informasi tetapi memiliki
cara yang jelas untuk memproses informasi pada saat informasi itu diperoleh.
3. Keputusan Informasi, suatu situasi yang banyak informasi tetapi meliputi
kontroversi tentang bagaimana memproses informasi tersebut.
4. Keputusan Eksplorasi, suatu situasi yang sedikit informasi dan tidak ada
kata sepakat tentang cara yang hendak dianut untuk memulai mencari informasi.
G. Proses Pengambilan Keputusan :
1. Pendekatan yang interdisipliner.
Proses pengambilan keputusan tidak bisa dilihat sebagai suatu tindakan tunggal
dan tidak sebagai suatu tindakan yang Seragam yang berlaku untuk semua keadaan
serta dapat digunakan oleh pengambil keputusan yang berbeda dengan tingkat
efektifitas yang sama. Proses pengambilan keputusan terdiri dari berbagai ragam
keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dalam kehidupan
berorganisasi.
2. Proses yang sistematis.
Suatu proses logis yang melibatkan pengambilan langkah-langkah secara berturut
atau sekuensial dengan merinci proses tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih
kecil (pendekatan atomik). Pendapat lain mengatakan proses pengambilan keputusan
menyangkut dengan naluri, daya pikir, dan serangkaian metode intuitif yang
keseluruhannya dirangkum yang menjadi suatu kreatifitas (pendekatan holistik).
3. Proses berdasarkan informasi.
Pengambilan keputusan tanpa informasi berarti menghilangkan kesempatan belajar
secara adaptif. Seorang manajer harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang
Informatika untuk pengambilan keputusan yang efektif serta harus menuntut agar
tersedia baginya informasi yang memenuhi persyaratan kemutakhiran, kelengkapan,
dapat dipercaya dan disajikan dalam bentuk yang tepat.
4. Memperhitungkan faktor-faktor ketidakpastian.
Betapa pun telitinya perkiraan keadaan, dalamnya kajian terhadap berbagai
alternatif, tetap tidak ada jaminan bebas dari resiko ketidakpastian. Untuk itu
pengambilan keputusan harus dapat Memperhitungkan probabilitas (kemungkinan)
keberhasilan atau kekurang-berhasilan pelaksanaan suatu keputusan.
5. Diarahkan pada tindakan nyata.
Mengambil suatu tindakan harus dapat ditentukan secara pasti, kapan pemecahan berakhir
dan proses pengambilan keputusan dimulai. Masalah dan sasaran sering mempunyai
siklus pertumbuhan dan penyusutan, demikian juga faktor-faktor yang
mempengaruhi. Hal tersebut harus dikenali secara tepat karena akan sangat
mempengaruhi keputusan untuk bertindak atau tidak bertindak.
H. Teknik Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan meliputi
antara lain hal-hal yang berhubungan dengan pengumpulan fakta. Teknik
pengambilan keputusan dalam klasifikasi ada dua yaitu teknik tradisional dan
teknik modern. Teknik pengambil keputusan juga sering dibagi dalam teknik
pengambilan keputusan matematik atau kuantitatif (Heenan dan Addleman,
1976;Robbins, 1978) dan teknik pengambil keputusan non-matematik atau
kualitatif (Moody, 1983). Teknik matematik biasa diberi nama multivariate
analysis (analisis variabel ganda atau analisis berdimensi ganda).
Teknik non-matematik, yang lebih
sering digunakan untuk keputusan strategik antara lain sumbang saran,
consensus, Delphi, fish bowling, interaksi didaktik, tawar- menawar kolektif.
I. Pendekatan terhadap Pengambil
Keputusan
Berbagai model tentang pendekatan terhadap pengambilan keputusan telah
diperkenalkan oleh para ahli teori pengambilan keputusan, diantaranya adalah :
1. Model Brinckloe (1977)
Keputusan yang menggunakan pendekatan (i) Fakta, secara sistematis akan
mengumpulkan semua fakta mengenai masalah dan hasilnya ialah kemungkinan
keputusan akan lahir dengan sendirinya; (ii) Pengalaman, seseorang yang sudah
memiliki pengalaman tentu lebih matang dalam membuat keputusan daripada seorang
yang sama sekali belum mempunyai pengalaman apa-apa namun perlu diperhatikan
bahwa peristiwa-peristiwa yang lampau tidak akan pernah sama dengan pada saat
ini;(iii) Intuisi, tidak jarang keputusan yang diambil berdasarkan intuisi dikarenakan
kurang mengadakan analisis yang terkendali maka perhatian hanya ditujukan pada
beberapa fakta; (iv) Logika, pengambilan keputusan yang berdasar logika ialah
suatu studi yang rasional terhadap semua unsur pada setiap sisi dalam proses
pengambilan keputusan; (v) Analisis Sistem, kecanggihan dari komputer telah
merangsang banyak orang untuk mengambil keputusan secara kuantitatif.
2. Model McGrew (1985)
McGrew hanya melihat adanya tiga pendekatan yaitu proses pengambilan keputusan
rasional, model proses organisasional dan model tawar-menawar politik
(political bargaining model) yaitu (i) Pendekatan proses pengambilan keputusan
rasional memberi perhatian utama pada hubungan antara keputusan dengan tujuan
dan sasaran dari pengambilan keputusan; (ii) Model proses organisasional
menangani masalah yang jelas tampak perbedaannya antara pengambil keputusan
individu dan organisasi; (iii) Model tawar-menawar politik melihat kedua
pendekatan itu mengatakan bahwa pengambilan keputusan kolektif sesungguhnya
dilaksanakan melalui tawar-menawar namun hasil akhir keputusan itu sesungguhnya
tergantung pada proses memberi dan menerima di antara individu dalam kelompok
tersebut.
J. Teknik-teknik Pengambilan Keputusan.
(Siagian, S.P. (25-26;1993).
1. Brainstorming
Jika sekelompok orang dalam suatu organisasi menghadapi suatu situasi
problematic yang tidak terlalu rumit, dan dapat diidentifikasikan secara
spesifik mereka mengadakan diskusi dimana setiap orang yang terlibat diharapkan
turut serta memberikan pandangannya. Pada akhir diskusi berbagai pandangan yang
dikemukakan dirangkum, sehingga kelompok mencapai suatu kesepakatan tentang
cara-cara yang hendak ditempuh dalam mengatasi situasi problematic yang
dihadapi. Penting diperhatikan dalam teknik ini yaitu :
a. Gagasan yang aneh dan tidak masuk akal sekalipun dicatat secara teliti.
b. Mengemukakan sebanyak mungkin pendapat dan gagasan karena kuantitas
pandanganlah yang lebih diutamakan meskipun aspek kualitas tidak diabaikan.
c. Pemimpin diskusi diharapkan tidak melakukan penilaian atas sesuatu pendapat
atau gagasan yang dilontarkan, dan peserta lain diharapkan tidak menilai
pendapat atau gagasan anggota kelompok lainnya.
d. Para peserta diharapkan dapat memberikan sanggahan pendapat atau gagasan
yang telah dikemukakan oleh orang lain.
e. Semua pendapat atau gagasan yang dikemukakan kemudian dibahas hingga
kelompok tiba pada suatu sintesis pendapat yang kemudian dituangkan dalam
bentuk keputusan.
2.Synetics
Seorang diantara anggota kelompok peserta bertindak selaku pimpinan diskusi.
Diantara para peserta ada seorang ahli dalam teori ilmiah pengambilan
keputusan. Apakah ahli itu anggota organisasi atau tidak, tidak dipersoalkan.
Pimpinan mengajak para peserta untuk mempelajari suatu situasi problematik
secara menyeluruh. Kemudian masing-masing anggota kelompok mengetengahkan daya
pikir kreatifnya tentang cara yang dipandang tepat untuk ditempuh. Selanjutnya
pimpinan diskusi memilih hasil-hasil pemikiran tertentu yang dipandang
bermanfaat dalam pemecahan masalah. Dan tenaga ahli menilai melakukan penilaian
atas berbagai gagasan emosional dan tidak rasional yang telah disaring oleh
pimpinan diskusi serta kemudian menggabungkannya dengan salah satu teori ilmiah
pengambilan keputusan dan tindakan pelaksanaan yang diambil.
3. Consensus thinking
Orang-orang yang terlibat dalam pemecahan masalah harus sepakat tentang
hakikat, batasan dan dampak suatu situasi problematik yang dihadapi, sepakat
pula tentang teknik dan model yang hendak digunakan untuk mengatasinya. Teknik
ini efektif bila beberapa orang memiliki pengetahuan yang sejenis tentang
permasalahan yang dihadapi dan tentang teknik pemecahan yang seyogyanya
digunakan. Orang-orang diharapkan mengikuti suatu prosedur yang telah
ditentukan sebelumnya. Kelompok biasanya melakukan uji coba terhadap langkah
yang hendak ditempuh pada skala yang lebih kecil dari situasi problematik yang
sebenarnya.
4. Delphi
Umumnya digunakan untuk mengambil keputusan meramal masa depan yang
diperhitungkan akan dihadapi organisasi. Teknik ini sangat sesuai untuk
kelompok pengambil keputusan yang tidak berada di satu tempat.
Pengambil keputusan menysun serangkaian pertanyaan
yang berkaitan dengan suatu situasi peramalan dan menyampaikannya kepada
sekelompok ahli. Para ahli tersebut ditugaskan untuk meramalkan, apakah suatu
peristiwa dapat atau mungkin terjadi atau tidak. Jawaban dari anggota kelompok
tadi dikumpulkan dan masing-masing anggota ahli mempelajari ramalan yang dibuat
oleh masing-masing rekannya yang tidak pernah ditemuinya. Pada kesempatan
berikutnya, rangkaian pertanyaan yang sama dikembalikan kepada para anggota
kelompok dengan melampirkan jawaban yang telah diberikan oleh para anggota
kelompok pada putaran pertama serta hal-hal yang dipandang sudah merupakan
kesepakatan kelompok. Apabila pendapat seseorang ahli berbeda maka memberikan
penjelasannya secara tertulis. Tiap-tiap jawaban diberikan kode tertentu
sehingga tidak diketahui siapa yang memberikan jawaban.
Jawaban tersebut di atas dilakukan dengan beberapa putaran. Pengedaran daftar
pertanyaan dan analisa oleh beberapa ahli dihentikan apabila telah diperoleh
bahan tentang ramalan kemungkinan terjadi sesuatu peristiwa di masa depan.
5. Fish bowling
Sekelompok pengambil keputusan duduk pada suatu lingkaran, dan di tengah
lingkaran ditaruh sebuah kursi. Seseorang duduk di kursi tersebut hanya dialah
yang boleh bicara untuk mengemukakan pendapat ide dan gagasan tentang suatu
permasalahan. Para anggota lain mengajukan pertanyaan, pandangan dan pendapat.
Apabila pandangan orang yang duduk di tengah tersebut telah dipahami oleh semua
anggota kelompok dia meninggalkan kursi dan digantikan oleh orang yang lain
untuk kesempatan yang sama. Setelah itu semua pandangan didiskusikan sampai
ditemukan cara yang dipandang paling tepat.
6. Didactic interaction
Digunakan untuk suatu situasi yang memerlukan jawaban “ya” atau “tidak”.
Dibentuk dua kelompok, dengan satu kelompok mengemukakan pendapat yang bermuara
pada jawaban “ya” dan kelompok lainnya pada jawaban “tidak”. Semua ide yang
dikemukakan baik pro maupun kontra dicatat dengan teliti. Kemudian kedua
kelompok bertemu dan mendiskusikan hasil catatan yang telah dibuat. Pada tahap
berikutnya terjadi pertukaran tempat. Kelompok yang tadinya mengemukakan
pandangan pro beralih memainkan peranan dengan pandangan kontra.
7. Collective bargaining
Dua pihak yang mempunyai pandangan berbeda bahkan bertolak belakang atas suatu
masalah duduk di satu meja dengan saling menghadap. Masing-masing pihak datang
dengan satu daftar keinginan atau tuntutan dengan didukung oleh berbagai data,
informasi dan alasan-alasan yang diperhitungkan dapat memperkuat posisinya
dalam proses tawar-menawar yang terjadi. Jika pada akhirnya ditemukan bahwa
dukungan data dan informasi serta alasan-alasan yang dikemukakan oleh kedua
belah pihak mempunyai persamaan, maka tidak terlalu sukar untuk mencapai
kesepakatan. Tetapi sebaliknya, pertemuan berakhir tanpa hasil yang kemudian
sering diikuti dengan timbulnya masalah yang lebih besar.
K. Metode Pengambil Keputusan
Gortner (1987) lebih cenderung menganalisis pengambilan keputusan dari sudut
metode. Ada empat metode pengambilan keputusan yang dianggap lazim dipergunakan
dalam pengambilan keputusan organisasional.
Metode pertama adalah metode
rasional yang disebut juga model rasional. Ini adalah metode klasik yang secara
implicit mencakup model birokratik dari pengambilan keputusan.
Metode kedua, adalah metode tawar-menawar incremental (incremental-bargaining)
yang dipandang sebagai model paling dasar aktifitas politik, yaitu penyelesaian
konflik melalui negosiasi. Karakteristik dari incremental ialah bahwa keputusan
tentang suatu kebijakan terjadi dalam bentuk langkah-langkah kecil karenanya
tidak terlalu jauh dari status quo.
Metode ketiga yang disebut metode agregatif (aggregative methods) mencakup
antara lain teknik Delphi dan teknik-teknik pengambilan keputusan yang
berkaitan. Konsensus dan peran serta merupakan karakteristik utama dari metode
agregatif.
Metode keempat adalah metode keranjang sampah (the garbage-can) atau
nondecision-making model yang dikembangkan oleh March dan Olsen (1979). Model
keranjang sampah menolak model rasional bahkan rasional-inkremental yang
sederhana sekalipun. Ia lebih tertarik pada karakter yang ditampilkan dalam
keputusan, pada isu yang bermacam-macam dari peserta pengambil keputusan dan
masalah-masalah yang timbul pada saat itu. Sering kali keputusan yang diambil
tidak direncanakan sebagai akibat dari perdebatan dalam kelompok.
L. Teori-Teori Pengambilan Keputusan
Sehubungan dengan pendekatan yang telah diutarakan, lahirlah berbagai aliran
yang menampilkan teori-teori pengambilan keputusan yang berbeda (Brinckloe,
1977) yaitu :
1. Aliran Birokratik (Bureaucratic School)
Teori ini memberi tekanan yang cukup besar pada arus dan jalannya pekerjaan
dalam struktur organisasi. Tugas dari eselon bawah ialah melaporkan masalah,
memberi informasi, menyiapkan fakta dan keterangan-keterangan lain kepada
atasannya. Dengan segala pengetahuan, keterampilan dan kemampuannya, atasan
membuat keputusan setelah mempelajari semua informasi.
2.Aliran Manajemen Saintifik (Scientific Management
School)
Teori ini menekankan pada pandangan bahwa tugas-tugas itu dapat dijabarkan ke
dalam elemen-elemen logis, yang dapat digambarkan secara saintifik. Sementara
manajemen sendiri memiliki kemampuan untuk menganalisis dan menyelesaikan suatu
masalah.
3. Aliran Hubungan Kemanusiaan (Human Relations
School)
Teori ini menganggap bahwa organisasi dapat berbuat lebih baik apabila lebih
banyak perhatian yang diberikan kepada manusia dalam organisasi, seperti yang
menimbulkan kepuasan kerja, peran serta dalam pengambilan keputusan,
memberlakukan organisasi sebagai suatu kelompok social yang mempunyai tujuan.
Selain itu kebutuhan dan keinginan anggota selalu dipertimbangkan dalam membuat
keputusan.
4. Aliran Rasionalitas Ekonomi (Economic Rasionality
School)
Teori ini mengakui bahwa organisasi adalah suatu unit ekonomi yang
mengkonversikan masukan (input) menjadi keluaran (output) dan yang harus
dilakukan dengan cara yang paling efisien. Menurut aliran ini suatu langkah
kebijakan akan terus berlangsung sepanjang itu mempunyai nilai yang lebih
tinggi daripada biayanya.
5. Aliran Satisfacing
Aliran ini tidak mengharapkan suatu keputusan yang sempurna. Aliran ini yakin
bahwa para manajer yang selalu dipenuhi berbagai masalah mampu membuat
keputusan yang rasional.
6. Aliran Analisis Sistem
Aliran ini percaya bahwa tiap masalah berada dalam suatu system yang terdiri
dari berbagai sub sistem yang keseluruhannya merupakan satu kesatuan.
M. Pengambilan Keputusan Birokratik
Keputusan rutin adalah keputusan terprogram, keputusan repetitive, keputusan
yang berulang-ulang dibuat. Disebut keputusan repetitive karena berbagai
peraturan dan prosedur sebagai dasar untuk membuat keputusan telah
dilembagakan. Peraturan dan prosedur semacam ini banyak dijumpai dikalangan
birokrasi. Ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya keputusan-keputusan
dikalangan birokrasi telah dirutinkan sehingga dapat dikatakan bahwa keputusan
rutin sama dengan keputusan birokratik (Inbar, 1979).
Dalam pengambilan keputusan birokratik selalu bertindak tidak memihak tetapi
juga tidak responsive bahkan soulless, tidak punya jiwa pendeknya seperti
organisasi robot dalam banyak hal. Pengaruh yang terutama memegang peranan
dalam pengambilan keputusan birokratik ialah tekanan politik dan pengaruh elit.
N. Penyelesaian Masalah dan Pengambilan Keputusan
Sering kali orang sulit membedakan antara penyelesaian masalah dan pengambilan
keputusan. Bila dilihat dari sudut prosesnya sulit dibedakan karena keduanya
menggunakan langkah-langkah proses yang mirip. Perbedaan diantara keduanya
terletak pada hasilnya. Penyelesaian masalah adalah pemikiran yang akhirnya
bermuara pada hasil berupa penyelesaian kesenjangan antara performance yang
diinginkan dan performance yang menjadi kenyataan. Sering juga disebut
perbedaan antara das sollen dan das sein. Dalam istilah Downs (Nutt, 1989),
perbedaan antara kenyataan yang ada dan kenyataan yang diinginkan disebut
kesenjangan kinerja (performance gap).
Lain halnya dengan pengambilan keputusan karena dalam hal ini pengambilan
keputusan adalah pemikiran yang menghasilkan pilihan dari berbagai alternatif
yang ada. Sebaliknya, pilihan itu terjadi dalam proses penyelesaian masalah
karena dalam menyelesaikan suatu masalah, setiap langkah yang ditempuh mencakup
aspek pengambilan keputusan.
O. Ciri-ciri Keputusan Strategik
(Nisjar, Karhi dan Winardi ; 1997) :
1. Keputusan-keputusan strategik pada umumnya
berkaitan dengan skope dari aktifitas sesuatu organisasi.
Timbullah pertanyaan di sini: “Apakah kirannya organisasi yang bersangkutan
memusatkan perhatiannya pada satu bidang aktifitas saja, ataukah perlu ia
memiliki aneka macam bidang aktifitas?”
2. Strategi berkaitan dengan upaya menyesuaikan
(MATCHING) aktifitas-aktifitas organisasi dengan lingkungan di mana ia
beroperasi.
Misalnya persaingan luar negeri merupakan salah satu perubahan lingkungan yang
dapat mempengaruhi sesuatu organisasi.
3. Strategi juga berhubungan dengan tindakan dan upaya
menyesuaikan aktifitas-aktifitas organisasi yang bersangkutan dengan kemampuan
sumberdayanya.
Strategi bukan hanya sekedar menghadapi ancaman lingkungan dan memanfaatkan
peluang karena lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan upaya menyesuaikan
sumber-sumber daya keorganisasian dengan ancaman dan peluang tersebut..
4. Keputusan-keputusan strategik sering kali
menimbulkan implikasi-implikasi serius terhadap sumber daya sesuatu organisasi.
Misalnya perusahaan-perusahaan mobil sudah banyak menggunakan tenaga robot agar
mereka tetap dapat bertahan dalam persaingan mobil.
5. Keputusan-keputusan strategik besar kemungkinan
mempengaruhi keputusan-keputusan operasional.
6. strategi suatu organisasi bukan saja akan
dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan, dan ketersediaan sumber-sumber
daya, tetapi akan dipengaruhi oleh nilai-nilai dan harapan-harapan pihak yang
memiliki kekuasaan dalam organisasi yang bersangkutan.
7.Keputusan-keputusan strategik kirannya akan
mempengaruhi arah jangka panjang suatu organisasi.
8. Keputusan-keputusan strategik sering kali bersifat
kompleks.
Kompleksitas
itu terjadi karena adanya :
a. Keputusan-keputusan strategik biasanya mencakup ketidakpastian tingkat
tinggi. Mungkin di dalamnya termasuk keputusan tentang landasan
pandangan-pandangan sehubungan dengan masa yang akan datang yang tak mungkin
diketahui secara pasti oleh manajer.
b. Keputusan-keputusan strategik, kirannya menuntut adanya suatu pendekatan
yang terintegrasi guna memanajemen organisasi yang bersangkutan.
c. Keputusan-keputusan strategik, biasanya menyebabkan timbulnya dampak berupa
perubahan besar pada organisasi-organisasi.